carticariana

carticariana

Senin, 19 Juli 2010

Gangguan Berhubungan Sosial ( GBS )


BAB I
PENDAHULUAN

A.         LATAR BELAKANG
         Perilaku menarik diri adalah klien ingin lari dari kenyataan tetapi karena tidak mungkin, maka klien menghindari atau lari secara emosional sehinga klien jadi pasif, tergantung, tidak ada motivasi dan tidak ada keinginan untuk berperan. Setiap saat, 450 juta oran di seluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, saraf maupun prilaku. Di Indonesia, pravalensinya sekitar 11% dari total penduduk dewasa. Di RSJ Soeharto Heerdjan Grogol, misalnya pada tahun 2008, pasien jiwa disana berjumlah 20.040 orang. Naik cukup tinggi bila dibandingkan dengan 2007 yang jumlahnya 17.124 orang (kenaikan 17%). Di RSUP Cipto Mangunkusumo juga begitu. Pada tahun 2008, pasien jiwa di sana berjumlah 14.983 orang atau 26,8% jumlah tersebut lebih banyak bila dibandingkan pada tahun 2007 yang jumlahnya 11.816 orang. Peningkatan serupa juga terjadi di RS Persahabatan yang berlokasi di Jakarta Timur, dimana pada tahun 2008 lalu jumlah pasien yyang mengalami gangguan jiwa berjumlah 2.386 orang atau naik 8,9 % dari tahun 2007 ( 2.189 orang). (pikiran Rakyat Bandung 2007).
Berdasarkan dat statistik di atas, klien yang dirawat di rumah sakit pada umumnya tidak hanya mengalami masalah fisik, namun mereka juga mengalami masalsh psikososial seperti berdiam diri, tidak ingin bertemu siapapun, merasa kecewa atau putus asa, malu dan tidak berguna disertai keraguan dan percaya diri yang kurang. Keluarga juga sering merasa kekhawatiran dan ketidak pastian tentang keadaan klien ditambah lagi gengan kurangnya waktu petugas kesehatan ( perawat dan dokter ) untuk mengonfirmasikan kondisi klien kepada anggota keluarga klien. Klien dan keluarga sering tidak diajak berkomunikasi, kurang diberi informasi yang dapat mengakibatkan perasaan sedih ansietas, takut, marah, prestasi, tidak berdaya karena informasi yang tidak jelas disertai ketidak pastian.
Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus dapat meyakinkan bahwa klien adalah makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang utuh dan unik sebagai satu kesatuan dalam berintregasi terhadap lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan berhubungan sosial yang di intregasikan secara komperhensif kepada program asuhan klien, diharapkan klien dan keluarga segera mungkin dapat berperan serta sehingga “self-care” (perawatan diri) dan “family support” (dukungan keluarga) dapat terwujud. Termasuk tindakan rehabilitatif (pemulihan keadaan), preventif (aktivitas, dan ikhtiar yang menyangkut pengakhiran konflik), kuratif, promotif (seluruh kerja dan ikhtiar dalam rangka mendorong pemulihan klien). Salah satu aspek yang dilakukan asuhan keperawatan psikososial khususnya pada klien dengan gangguan berhubungan sosial.

B.        TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Tujuan umum :
      Untuk mengetahui asuhan keperawatan dengan gangguan berhubungan social atau menarik diri.
2.      Tujuan khusus :
a.       Mampu menjelaskan pengertian gangguan berhubungan social atau menarik diri.
b.      Mampu menjelaskan rentang respon pada gangguan berhubungan sosial.
c.       Mampu menjelaskan tanda dan gejala yang timbul pada klien gangguan hubungan sosial.
d.      Mampu menjelaskan tahapan perkembangan pada gangguan berhubungan sosial.
e.       Mampu mengkaji pada klien gangguan berhubungan sosial.
f.        Mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien gangguan berhubungan sosial.

C.        RUANG LINGKUP
Ruang lingkup masalah hanya meliputi asuhan keperawatan pada klien gangguan hubungan sosial.

D.       METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah :
1.      metode research library yaitu pengambilan materi dari buku – buku maupun dari artikel atau studi kasus yang ada kaitannya dengan pembahasan.
2.      searching internet yaitu pengambilan materi dari internet yang berhubungan dengan pembahasan.

E.         SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
B.     Tujuan
C.     Ruang Lingkup
D.     Metode Penulisan
E.      Sistematika Penulisan

BAB II TINJAUAN TEORITIS
1.      KONSEP DASAR
A.     Pengertian
B.     Psikodinamika
C.     Rentang Respon
D.     Tahapan Perkembangan
E.      Tanda dan Gejala
F.      Mekanisme Koping


2.      PROSES KEPERAWATAN
A.        Pengkajian
B.        Diagnosa Keperawatan
C.        Intervensi
D.        Evaluasi

BAB III PENUTUP
A.        Kesimpulan
B.         Saran





BAB II
TINJAUAN TEORITIS


I.       KONSEP DASAR
  1. Pengertian Gangguan Hubungan Sosial
Gangguan berhubungan social : perilaku menarik diri, merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari berhubungan dengan orang lain ( Rawlins, 1993 ).
Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 ).

Perilaku menarik diri adalah klien ingin lari dari kenyataan tetapi karena tidak mungkin, maka klien menghindari atau lari secara emosional sehinga klien jadi pasif, tergantung, tidak ada motivasi dan tidak ada keinginan untuk berperan (Budi Ana Keliat, 1992).

Perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain ( DepKes, 1998 ).
Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose Kep. Psikiatri, 1998 )

  1. Psikodinamika
1)      Etiologi
Menurut Townsend (1998) penyebab penarikan diri dari masa bayi sampai tahap akhir perkembangan adalah :
a.       Kelainan pada konsep diri
b.      Perkembangan ego yang terlambat
c.       Perlambatan mental yang ringan sampai sedang
d.      Abnormalitas SPP tertentu, seperti adanya neurotoksin, epilepsi, serebral palsi, atau kelainan neurologis lainnya.
e.       Kelainan fungsi dari sistem keluarga
f.        Lingkungan yang tidak terorganisir dan semrawut
g.       Penganiayaan dan pengabaian anak
h.       Hubungan orang tua – anak tidak memuaskan
i.         Model – model peran yang negative
j.        Fiksasi dalam fase perkembangan penyesuaian
k.      Ketakutan yang sangat terhadap penolakan dan terlalu terjerumus
l.         Kurang identitas pribadi
Manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari, selalu membutuhkan orang lain dan lingkungan sosial. Rentang respon sosial berfluktuasi dengan rentang adaptif sampai rentang maladaptif.
2)      Proses terjadinya masalah
      Dalam teori kepribadin (1991 : hal 32) dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari 3 unsur yaitu : identitas, ego, dan super ego. Ketiga sistem tersebut memiliki fungsi kelengkapan, prinsip – prinsip operasi, dinamisme dan mekanisme masing – masing, keriga sistem ini saling berkaitan serta membentuk totalitas. Tingkah laku manusia merupakan produk interaksi antara identitas, ego, dan super ego. Kepribadian terus – menerus mengalami perkembangan mulai dari lahir hingga akhr hayatnya. Menurut Sigmund Freud, dalam perkembangan kerpibadian manusia tersebut ada beberapa tugas perkembangan yang harus dilaksanakan. Kegagalan atau tidak terselesaikan tahap perkembangan kepribadian dapat berdampak terhadap kepribadian seseorang dimasa yang akan datang. Salah satu di antaranya adalah kegagaln dalam fase oral. Fase ini berlangsung dari mulai lahir, sampai tahun pertama. Pada waktu seseorang lahir, ia memiliki identitas. Identitas merupakan dunia batin yang berisikan hal – hal yang dibawa sejak lahir, berupa dorongan naluri yang selalu berhubungan dengan jasmani, mementingkan diri sendiri dan merupakan bagian dari alam tak sadar. Karena itu identitas bekerja sesuai dengan prinsip keterangn tanpa memperdulikan kenyataan. Seorang bayi pada waktu lahir telah memiliki identitas. Ia tidak mempunyai kemampuan untuk menghambat, mengawasi atau memodifikasi dorongan nalurinya. Karena itu fase oral ini ia akan sangat tergantung pada ego orang lain didalam lingkungannya. Dalam fase oral ini terbagi atas 2 fase kenikmatan dan sadisme. Mula – mula seorang bayi hanya menerima apapun yang dimasukan kedalam mulutnya, kemudian ia menghisapnya. Inilah yang dinamakan fase kenikmatan. Pada saat itulah mulai tumbuh rasa percaya pada ibunya yang telah memberi makan dan kasih sayang. Ibu merupakan orang pertama yang dikenalinya pada fase sadisme, seseorang bukan hanya menghisap saja akan tetapi ia mulai menggigit, mengunyah, dan menelan. Makanan yang disukai akan ditelannya, sedangkan makanan yang tidak disukai akan ditolak dan dimuntahkannya. Pada usia 4 – 5 bulan dalam fase oral ini mulia terjadi pembentukan ego. Ego bertugas sebagai pengendali untuk menjaga keseimbangan antara identitas dan super ego. Apabila ia lebih dominan dalam diri seseorang maka dia akan lebih berfokus pada dirinya sehingga dia akan bersifat ingin menang sendiri. Sebaliknya apabila super ego lebih dominan dalam dirinya maka ia akan bersifat kaku dan terpaku pada norma – norma yang ada dimasyarakat, sehingga dengan tidak adanya keseimbangan antara identitas dan super ego dapat menimbulkan gangguan dikemudian harinya. Rasa pecaya sejak bayi dilahirkan dan berinteraksi sengan lingkungan, ibu merupakan orang pertama dan utama yang akan membentuk kata percaya. Apabila bayi memperoleh kepuasan sesuai dengan kebutuhannya dari ibu ataupun dari lingkungannya maka dia akan percaya bahwa lingkungannya dapat memenuhi kebutuhan dan terbentuklah rasa percaya terhadap orang lain. Dan papbila hal ini tidak terpenuhi dan berlangsung terus – menerus dalam tempo yang lama maka bayi tdak dapat menyelesaikan pertumbuhan dan perkembangan dengan baik sehingga akan terbentuk rasa tidak percaya kepada didrinya maupun lingkungannya yang akibatnya individu akan membatasi hubungan dengan lingkungannya. Reaksi ini timbul berbeda – beda pada pihak in dividu, ada yang menetap, prilaku menarik diri merupakan proses terjadinya skizofrenia. Pasien mula – mula rendah diri merasa tidak berharga dan tidak berguna sehingga merasa tidak aman dalam membina hubungan dengan orang lain. Dunia merupakan alam yang tidak menyenangkan, sebagai usaha untuk melindungi diri, pasien menjadi pasif dan kepribadian menjadi kaku. Semakin individu menjauhi kenyataan, semakin banyak kesulitan yang timbul dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain.
3)      Komplikasi
    1. kebutuhan fisiologi dan biologis
·        nutrisi : menolak makan atau sebaliknya, makan secara berlebihan
·        istirahat dan tidur : melamun dan timbul kecemasan, dan gelisah menyebabkan gangguan tidur
·        eleminasi : kurangnya aktivitas menurunkan metabolisme tubuh dan peristaltik usus sehingga menyebabkan konstipasi
·        aktivitas sehari –hari : keinginan hidup produktif berkurang sehingga pemenuhan kebutuhan aktivitas terganggu
·        seksual : sulit mengekspresikan keinginan membina hubungan lawan jenis
    1. Kebutuhan rasa aman
Karena kurangnya mengembangkan kehangatan emosional dalam membina hubungan yang positif cenderung tidak mempunyai rasa percaya diri, mengembangkan kepercayaan dalam berhubungan dengan orang lain akhirnya menimbulkan kecemasan dan dampak yang ditimbulakn adalah gangguan rasa aman.
    1. Kebutuhan mencintai dan memiliki
Karena hilangnya hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan berbagi rasa, pikiran prestasi sehingga menyulitkan terjadinya hubungan interpersonal termasuk hubungan untuk mencintai dan dicintai.
    1. Kebutuhuan akan harga diri
Cenderung merasa rendah diri, merasa tidak berharga lagi, dan tidak berguna dampaknya adalah gangguan kebutuhan akan harga diri..
    1. Kebutuhan aktualisasi diri
Biasanya gagal dalam mengaktualisasi diri karena pada klien denga gangguan berhubungan, minatnya berkurang tidak berambisi, emosinya dangkal.


C.    Rentang respon
RESPON ADAPTIF                                                    RESPON MALADAPTIF

Otonomi                                   Menarik diri                        Impulsif
Kebersamaan                           Ketergantungan                   Narkisisme
Saling ketergantungan


keterangan rentang respon
1)      Respon adaptif adalah respon yang diterima oleh norma social dan cultural dimana individu tersebut menjelaskan masalah dalam batas normal.
Karakteristik respon adapif :
a.       Solitude
Respon yang dibutuhkan untuk menentukan apa yang telah dilakukan dilingkungan sosialnya dan merupakan suatu cara mengawasi diri dan menentukan langkah berikutnya.
b.      Otonomi
Suatu kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran.
c.       Kebersamaan
Suatu keadaan dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk memberi dan menerma.
d.      Saling ketergantungan
Saling ketergantngan antara individu dengan orang lain dalam hubungan iterpersonal

2)      Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma – norma sosial dan budaya lingkungan.


Karakteristik respon maladapif
a.       Menarik diri
Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain untuk mencari ketenangan sementara waktu.
b.      Manipulasi
Hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek dan berorientasi pada diri sendiri atau pad tujuan, bukan berorientasi pada orang lain. Individu tidak dapat membina hubungan secara mendalam.
c.       Ketergantungan
Individu gagal mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan yang dimiliki.
d.      Impulsif
Ketidakmampuan merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, tidak dapat diandalkan, mempunyai penilaian yang buruk dan cenderung memaksakan kehendak.
e.       Narkisisme
Harga diri yang rapuh, secara terus-menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, memiliki setiap egosentris, pencemburu dan marah jika orang lain tidak mendukung.

D.                Tahapan perkembangan
Pada dasarnya kemampuan hubungan social berkembang sesuai dengan proses tumbuh kembang individu mulai dari bayi sampa dengan dewasa lanjut.
a.       Masa bayi
Respon lingkungan (ibu atau pengasuh) terhadap kebutuhan bayi harus sesuai agar berkembang rasa percaya diri bayi akan respon atau prilakunya dan rasa percaya diri terhadap orang lain (ericson). Kegagalan pemenuhan kebutuhan bayi melalui ketergantungan pada orang lain akan mengakibatkan rasa tidak percaya pada diri r lusendiri dan orang lain, serta menarik diri (huber. Dkk 1987).
b.      Masa prasekolah
telah dimiliki untuk berhubungan dengan lingkungan
Anak meggunakan kemampuan berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga. Kegagalan anak dalam berhubungan dengan lingkungan disertai respon keluarga yang negatif akan mengakibatkan anak menjadi tidak mampu mengontrol diri, tidak mandiri, ragu, menarik diri dari lingkunga, kurang percaya diri, pesimis, takut prilakunya salah.
c.       Masa sekolah
Pada usia ini anak muai mengenal bekerja sama, kompetisi, kompromi. Kegagalan dalam membina hubungan dengan teman disekolah, kurangnya dukungan guru dan pembatasan serta dukungan yang tidak konsisten dari orang tua mengakibatkan anak frustasi terhasap kemampuannya, putus asa, merasa tidak mampu dan menarik diri dari lingkungan.
d.      Masa remaja
Pada usia ini anak mengembangkan hubungan intim dengan teman sebaya dan sejenis dan umumnya mempunyai sahabat karib. Kegagalan membina hubungan dengan teman dan kurangnya dukungan dari orang tua, akan mengakibatkan keraguan akan identitas, ketidakmampuan mengidentifikasi karir dan rasa percaya diri kurang.
e.       Masa dewasa muda
Kegagalan individu dalam melanjutkan sekolah, pekerjaan, perkawinan akn mengakibatkan individu menghindari hubungan intim, menjauhi orang lain, putus asa akan karir.
f.        Masa dewasa tengah
Individu yang perkembangannya baik akan dapat mengembangkan hubungan dan dukungan baru. Kegagalan pisah tempat dengan orang tua, membina hubungan yang baru, dan mendapatkan dukungan dari orang lain akan kreatifitas berkurang, perhatian pada orang lain.
g.       Masa dewasa lanjut
Individu yang mengalami perkembangan yang baik dapat menerima kehilangan yang terjadi dalam kehidupannya dan mengakui bahwa dukungan orang lain dapat membantu dalam menghadapi kehilangannya. Kegagalan individu untuk menerima kehilangan yang terjadi pada kehidupan serta menolak bantuan yang disediakan untuk membantu akan mengakibatkan perilaku menarik diri.

E.               Tanda dan Gejala
Menurut Carpineto, L.J ( 1998:352 ); Keliat, B.A ( 1994:20 ); perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah antara lain:
Data subjektif:
a. Mengkritik diri sendiri atau orang lain
b. Perasaan dirinya sangat penting yang berlebih-lebihan
c. Perasaan tidak mampu
d. Rasa bersalah
e. Sikap negative pada diri sendiri
f. Sikap pesimis pada kehidupan
g. Keluhan sakit fisik
h. Pandangan hidup yang terpolarisasi
i. Menolak kemampuan diri sendiri
j. Pengurangn diri/mengejek diri sendiri
k. Perasaan cemas dan takut
l. Merasionalisasi penolakan/menjauh dari umpan balik positif
m. Mengungkapkan kegagalan pribadi
n. Ketidak mampuan menentukan tujuan

Data objektif:
a. Produktivitas menurun
b. Perilaku destruktif pada diri sendiri
c. Perilaku destruktif pada orang lain
d. Penyalahgunaan zat
e. Menarik diridari hubungan social
f. Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah
g. Menunjukkan tanda depresi ( sukar tidur dan sukar makan )
h. Tampak mudah tersinggung/mudah marah
F.             Mekanisme Koping
i.      koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian anti sosial
·                    Proyeksi
·                    Pemisahan
·                    Merendahkan orang lain
ii.     koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian “border line”.
·                    Pemisahan
·                    Reaksi formasi
·                    Proyeksi
·                    Isolasi
·                    Idealisasi orang lain
·                    Merendahkan orang lain
Pemeriksaan tes diagnostik

II.     Proses Keperawatan
A.     Pengkajian
Pengkajian adalah data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial, dan kultural. Data yang akan muncul pada klien isolasi sosial pada data subjektif  dapat ditemukan klien mengatakan malas berinteraksi, klien mengatakan orang lain tidak mau menerima dirinya, klien merasa tidak berguna. Pada data objektif akan timbul adalah klien terlihat menyendiri, klien tidak mau bercakap – cakap dengan orang lain, klien terlihat mondar-mandir tanpa tujuan, klien tidak berinisiatif berinteraksi dengan orang lain, kontak mata kurang.
1.      Faktor penyebab ( predisposisi )
a)      Faktor perkembangan
Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon sosial yang maladaptif. Beberapa orang percaya bahwa individu yang mempunyai masalah ini adalah orang yang tidak berhasil memisahkan diri dari orang tua. Keluarga sering kali mempunyai peran yang tidak jelas. Orang tua pecandu alkohol dan penganiaya anak juga dapat mempengaruhi seseorang berespon sosial maladaptif.

b)      Faktor biologis
Faktor genetik juga dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptif. Ada bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmiter dallam perkembangan gangguan ini, namun masih tetap diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai kebenaran keterlibatan neurotransmiter.
c)      Faktor sosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan. Ini akibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif, seperti lansia, orang cacat, berpenyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, prilaku, dan sistem nilai yang berbeda dari kelompok mayotritas. Harapan yang tidak realistik tehadap hubungan merupakan faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini.

2.      Faktor pencetus ( presipitasi )
Stresor pencetus pada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh stres seperti kehilangan, uang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. Stresor pencetus dapat digolongkan dalam katagori :
a)      stresor sosiokultural
Stres dapat ditimbulkan oleh :
·        Menurunnya stabilitas unit keluarga
·        Perpisahan dengan orang yang berarti dalam kehidupannya.

b)      Stresor psikoligis
ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk mengetahui kebutuhan untuk ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tinggi.

B.     Pohon masalah

                                                      RESIKO HALUSINASI
                                                          ISOLASI SOSIAL
 

                                                     HARGA DIRI RENDAH

C. Diagnosa
Masalah keperawatan yang mungkin terkait dengan masalah gangguan hubungan sosial adalah (Carpenito, 1995) :
                     i.      ansietas
                   ii.      isolasi sosial
                  iii.      harga diri rendah
                 iv.      defisit perawatan diri
                   v.      resiko menciderai diri sendiri

D.  intervensi
Diagnosa : isolasi sosial

BAB III
PENUTUP


A.        Kesimpulan
Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose Kep. Psikiatri, 1998 ).
Jadi dapat disimpulkan bahwa perasaan negatif terhadap diri sendiri yang dapat diekspresikan secara langsung dan tak langsung.hal ini ditandai dengan adanya upaya menarik diri dari lingkungannya,yang disebabkan dari harga diri rendah yaitu berduka disfungsional.

B.        Saran
Bermutu atau tidaknya pelayanan Keperawatan di suatu Rumah Sakit sangat bergantung pada kerjasama antar Perawat itu sendiri. Apabila tidak adanya suatu hubungan yang baik antara sesama anggota dan klien maka akan sulit membangun kepercayaan masyarakat dalam Asuhan Keperawatan yang diberikan. Agar kinerja dalam keperawatan berjalan dengan efektif maka seorang perawat juga perlu memahami setiap karakter yang berbeda dari setiap klien. Selain dapat memberikan hasil kerja yang terbaik, dalam memberikan Asuhan Keperawatan juga dapat dilakukan dengan lancar. Tentunya dengan melibatkan keluarga klien maka kesembuhan klien akan berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tanpa melibatkan anggota keluarga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar